Search This Blog

Friday, September 11, 2009

Hanya aku, ayahku, ibukku, dan adikku. that's it!


Aku lahir 16 tahun yang lalu, sedangkan adikku beda 8 tahu dariku. Ayahku hanya seorang pegawai negeri. Sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga. Sejujurnya, kehidupan kami menengah. Walau aku memang membutuhkan tambahan biaya untuk kuliah. Tapi aku malu untuk minta terus. aku selalu menyisihkan untuk keperluanku sendiri di sekolah. Kadang aku merasa malu jadi diriku yang selalu menuntut ini dan itu, rasanya aku ingin mandiri nanti ketika kuliah. Ketika aku melakukan sebuah kesalahan besar, rasanya seperti membunuh diriku secara perlahan-lahan. Bukan karena aku lari dari tanggung jawab, bukan karena aku takut dimarahi. Tapi karena aku mengecewakan orang tuaku dalam-dalam, dan itu membuatku semakin malu.

Waktu aku ingin study tour aku terpaksa tidak ikut karena aku sakit, padahal sudah bayar lunas, dan aku jatuh sakit 3 hari sebelum keberangkatanku. Aku sedih sekali, sehingga aku menangis terus-dan terus, bukan karena aku tak bisa bersenang-senang disana, tapi karena aku tak bisa mengembalikan uang itu. Terlebih lagi aku seperti tak percaya kepada Tuhanku lagi. Rasa penyesalan dan menyalahkan diriku sangat besar. Aku terus berteriak teriak dalam hati, “Kenapa harus aku! Tolong beri aku jawabanMu!”. Aku sedih sekali. Sebulan aku tak bisa lari dari semua kejaran fikiranku sendiri. Terlebih lagi ketika aku ingat barang-barang yang sudah di belikan untuk aku study tour, dan itu semua sia-sia. Rasanya semuanya tak pantas untuk ku capai. Ku coba bertahan. Dan aku masih bisa melewati masa-masa kritis itu.

Ketika aku naik kelas, semua keperluan sekolahku baru dan keperluan adikku juga sama. Aku justru semakin merasa tidak enak. Dan sekarang aku dibelikan notebook baru. Rasanya memang benar aku seperti menggrogoti orang tuaku sendiri.

Tapi, sekian lama aku merenung, akhirnya ku temukan titik balik diriku. Aku baru menyadari, ketika aku bisa lolos OSN FISIKA ke tingkat provinsi ayah dan ibuku senang sekali. Aku baru menyadari, aku jadi punya motivasi untuk hidup mendiri dan membahagiakan orangtua dan adikku kelak, aku jadi punya keinginan untuk membiayai pendidikan adikku ketika aku sudah kerja nanti. Aku jadi punya motivasi untuk memberikan kedua orang tuaku gajipertamaku. Aku jadi punya motivasi untuk jadi orang sukses.

Dan ayahku pernah bilang kepadaku, “ayah tidak butuh uang dari kamu, kalau nanti kamu sudah kerja. Tapi, yang ayah ingin, kamu dan adikmu bisa sukses, jadi ayah bisa dikatakan berhasil mendidik kamu”. Aku belajar dari itu, itu yang jadi semangat belajarku sekarang. Aku ingin membagi pengalamanku ini kepada adiku kelak, ketika ia sudah seumuran sepertiku. Ketika aku beranjak dewasa seperti sekarang ini, Ayah dan Ibuku seperti memberikan intisari dari pengalaman yang ada. “Materi bisa dicari, tapi kebahagiaan dan kesuksesan anakmu adalah harta terindah bagimu”. Sudah ku temukan jawaban yang selama ini ku cari dari Tuhanku.

Monday, September 07, 2009

ketika semuanya hinggap disini


Ketika semuanya hinggap disini, terjadilah sebuah keajaiban dalam seisi hatiku.

Setiap tatapan berat yang telah dilayangkanya, kutangkap dengan sinyal positif

Sehingga aku dibuat tersipu malu karena semua yang terlihat tidak disengaja.

Kalau saja, aku sesempurna apa yang kau inginkan, akankah semua ini terjadi begitu saja.

Ketika semua kulihat begitu nyata, sampai seorang yang dia ceritakan kepadaku, hinggap di mataku sendiri.

Aku terpaku, ternyata dia tidak bohong, aku tak bisa rasakan apa yang terjadi.

Seakan darahku mengalir sampai ubun-ubun, aku mengingatnya.

Rasanya, aku ingin sekali dapat menangkap seperti apa bayanganya, walau hanya bayangan saja.

Ketika semua begitu sempurna untuk di bilang sebuah kesalahan, aku mengakui itu hal yang bodoh.

Setiap uraian kata satu sama lain, hinggap di depan mataku sendiri, aku tersipu malu

Namun, seketika itu kau rusak semua yang ada, hingga tak ada yang namanya kita.

Mungkin, kau juga merasakan apa yang kurasakan, sepintas aku memang membaca kembali kisah hidupku, namun hanya untuk dikenang, tidak untuk memulai cerita lagi.

Sejujurnya, ini semua hanya sebuah ilusi dari kehidupan nyata yang kujalani. Hanya sebagai sebuah pengalaman.

Namun ada dua hal yang masih ingin kukejar dan kutaklukan sendiri.

Yaitu, kamu.

Semua yang ada, tak perlu kusesali lagi, karena aku takberkorban apa-apa. Untungnya aku orang yang bisa mengendalikan metamorphosis.

Kuakui aku memang tertarik, tertarik secara metafisik dengan pancaran aura yang kau punya.

Namun ketika ku bercermin pada diriku sendiri, ku sadari aku bukan yang beruntung.


Friday, September 04, 2009

wuaahh kangen banget sama kalian!

well, here i goes!

hey, gue nulis lagi, akhirnya.. setelah kepenatan di tahun terakhir sekolah dan sudah saatnya untuk berjuang mencapai apa itu sukses, perlulah gue untuk merileks-kan diri dengan berselancar di dunia maya. Kangen nulis juga setelah sudah lama ga nulis.
Oh iya, selamat menjalankan saum kalau lg saum!!

oh iya, setelah nulis beberapa cerpen, dan sempat vakum, baru aja lahir sebuah cerpen baru dari gue, judulnya " It's not just an imagine" atau bahasa jawanya, bukan sekedar imajinasi.

Bercerita tentang seorang remaja putri Anna yang sekolah di sekolah internasional, dan berhasil mengungkap rahasia si kembar identik Andrea dan Lucas yang ternyata seorang Constantine dengan bakatnya, di balik sosok seorang Andrea yang dingin ada sisi kehangatan untuk menjadikan Anna seorang sahabatnya, dan kembaranya, Lucas yang sudah sejak lama mencari seseorang untuk menjadi sahabatnya sekaligus bunga-bunga di hatinya. Walaupun harus mengorbankan ingatan Anna untuk dihapus sementara waktu demi menyelamatkan hidup Anna dari ancaman Torz, Lucas dan Andrea masih sabar menunggu datangnya hari ke-100 untuk memulihkan ingatan Anna kembali dan memulai persahabatan mereka dari nol lagi.

Akankah Anna tahu bahwa Lucas mencintainya? akankah, mereka selamat dari ancaman Torz untuk terakhir kalinya? penasaran? Tunggu saja kabar selanjutnya..

Wew, gue keren juga ya buat cerpen kaya gitu, lumayan sih udah dapet setengah ceritanya. Tapi kalo disebut cerpen kurang cocok soalnya udah kepanjangan, lebih cocok jadi novelet, hahaha.

Well, well, well.
Akhirnya, bisa juga memanjakan para 'anak-anak' yang sudah dari kemarin menunggu untuk ditemui. gak ngerti? Anak-anak itu maksudnya kegiatan-kegiatan yang menyenangkan!
udah ah..
Bye!