Search This Blog

Friday, September 17, 2010

Saya dan angin

Saya berjalan di rel kereta. Sendirian. Meniti jalan yang tak akan saya tahu kapan akan sampai ke stasiun. Saya tidak merasa kesepian walaupun sendirian. Karena saya memiliki teman setia. Angin. Dia hampir selalu ada saat saya sedang berjalan. Kami sering mengobrol. Saya jadi merasa senang. Walaupun tidak setiap saat kami mengobrol. Setidaknya ada yang mau menemani saya.
Lalu dia berjanji di sore itu. Janji kalau ia ingin terus menemani saya.Hingga akhir hayatnya. Tetapi bukan hari itu ia akan menepati janjinya. Suatu saat nanti, jika ia memiliki kekuatan yang cukup untuk terus menemani saya, ia akan tepati janji itu. Saya senang. Ia menitipkan sebuah udara dingin yang sejuk. Lalu ia pergi menjauh untuk sementara ini. Angin itu tetap mengirimkan hembusanya untuk saya.
Tetapi tidak lagi mengobrol seperti yang lalu. Tapi saya jadi merasa kesepian. Saya tetap berjalan namun tidak banyak bercerita lagi. Salahkah saya jika lebih baik tidak perlu ada janji? Saya hanya ingin angin itu mengelilingi saya lagi. Seperti bunga mawar itu dengan mineral-mineral tanah. Seperti anak itik dan air danau. Salahkah saya jika saya menginginkan seperti itu?

Saya hanya ingin mengobrol lagi, karena yang saya butuhkan sekarang adalah berbagi, bukan berjanji.

No comments: