Search This Blog

Monday, December 06, 2010

biarkan kucing hitam itu mati dalam kesalahanya sendiri dan biarkan aku bahagia bersama rubahku di sini

dulu...
aku menginginkan seekor kucing hitam,
seekor kucing hitam yang biasa ku temui di taman kota.
selalu ku dekati agar dia mau ku bawa pulang..
tapi, ketika sudah ku beri ikan,
dia justru pergi ke tempat orang lain..
ya sudah, aku pulang saja...
sakit memang rasanya, seperti orang bodoh saja..

hari ini...
musim dingin datang..
aku kembali mengunjungi taman itu..
aku hanya ingin mencari suasana lama..
bukan untuk kembali mencarinya..
aku melihat rubah salju,
setidaknya rubah itu ramah sekali..
aku tidak berharap agar ia bisa ikut pulang bersamaku..
hanya ingin agar kami saling menyapa dan menyemangati setiap pagi
dan berteman baik saja..

itu lebih berhasil...

aku kembali bertemu kucing hitam itu..
aku hanya memberi tatapan sekilas saja..
namun dia mulai merajuk untuk ikut denganku..
aku bukan orang yang bisa melupakan rasa sakit dengan mudah..

lalu aku bilang kepadanya..
"kemanakah majikanmu?"

"dia ada,"

"
lalu? kenapa kau merajuk kepadaku?"

"karena aku tahu, kau lebih baik dari majikanku. "

"
kau mau? baiklah.. tapi dengarkan ceritaku dulu."

kucing hitam itu mengangguk.

"dulu, aku memintamu untuk jadi binatang peliharaanku. aku menunggumu untuk datang ke rumahku selama aku bisa menunggumu. aku mencarimu dan memberimu ikan setiap hari. tetapi kau tidak datang jua. sekarang apa yang kau sadari? tidakkah kau sadari dulu? ketika kebaikanku hanya kau abaikan. hingga setiap air mataku ini yang aku teteskan saat ini, hanya akan membuatku muak terhadapmu. haruskah aku bilang? kalau aku menyesal untuk mengenalmu. menyesal untuk bertemu denganmu. menyesal untuk menyia-nyiakan waktuku. dan dinginya udara hari ini akan jadi saksi.. jika aku menyesal untuk mengenalmu.." uraian air mataku jatuh.

kucing itu terdiam setelah melihat mataku. menunduk. tanpa berkata apa-apa.

" tidak ada peduliku untukmu," itu kat-kataa terakhirku untuknya. lalu aku pergi meninggalkan kucing hitam itu.

rubah salju datang menghampiriku tak jauh dari kucing hitam itu berada. rubah itu bertanya satu hal kepadaku.

"apa yang kau harapkan dari perkataanmu?"

"biarkan ia merasakan apa yang aku rasakan dulu. hanya ingin itu."

"dengan cara yang sama?"

"tidak, aku langsung berbicara kepadanya. apa adanya. dengan begitu tidak ada yang ditutup-tutupi. aku lega."

"kau tahu? menurutku kau itu kejam. tapi, aku suka caramu. aku turut berbahagia."

rubah salju tersenyum ke arahku. aku bersyukur bisa menemukanya. diantara putihnya salju, aku bisa menemukan matanya yang bijak, dan senyumnya yang hangat. sahabatku.

3 comments:

nopit nofriadi said...

good story,look my blog,oke,www.broeda.blogspot.com

Anonymous said...

tx nopit.. :)

Mita said...

kare, ceritanya bagus :D tapi kalimatnya ada yg kurang efektif hehehe.
oya, aku blm punya sahabat yg beneran sahabat loh hhaahahhaa